CINTA MONYET


Di belahan bumi utara, terdapat sebuah pulau yang dihuni oleh para monyet berperadaban tinggi. Di pulau ini, monyet-monyet sudah pergi ke sekolah.
Dari semua monyet, hiduplah seekor monyet yang berpenampilan sederhana. Monyet tersebut bernama monyet Merah. Ia baru saja lulus dari Sekolah Monyet Pertama (SMP). Merah lulus dengan nilai yang pas-pasan. Untuk nilai makan pisang aja mendapat 6, nilai berkelahi dapat 5 dan nilai manjat pohon 5.5. Merah ingin melanjutkan sekolahnya ke Sekolah Monyet Atas (SMA). Ada tiga buah sekolah monyet yang ada di pulau tersebut. Pertama SMA Teriak-teriak, ini merupakan sekolah unggul. Banyak para monyet yang berkemampuan untuk mendaftar ke sekolah ini. Kedua SMA Manjat dan yang ketiga SMA Cinta Monyet, ini merupakan sekolah baru.

Aduh…….. Lupa


PANASNYA terik matahari tidak membuat lukman menyerah untuk pergi menghadiri acara seminar. Kakinya melangkah dengan pasti, mengangkat dan menapaki setiap langkah menuju ke ruang pertemuan di PKM.

Lukman terhanyut dalam lamunannya saat sedang berjalan menuju PKM, “kenapa setiap perjuangan harus ada pengorbanan? Apakah pengorbanan bisa memberikan hasil yang diharapkan……?!

Didalam lamunannya itu, Ia tersentak seketika karena kakinya tersandung batu.
“Aduh………” , Lukman menyeringis kesakitan, “astaghfirullah, mungkin aku kebanyakan melamun nih….” Lukman kembali kepada kesadaran awalnya untuk segera menuju PKM.

bunuh diri

Ada sebuah kisah seorang pria yang ingin bunuh diri karena tak tahan dengan kerasnya kehidupan. Ia ingin menambrakkan dirinya ke rel kereta api.
“hidupku penuh dengan cobaan. Aku hanyalah seseorang yang membawa sial bagi orang lain. Aku hanya pecundang seperti sampah yang tak berguna. Ohh…… Tuhan dima keadilan-Mu. Kenapa Kau berikan cobaan yang tak sanggup aku memikulnya. Kenapa Kau lahirkan aku yang tak berguna ini. Apakah kau ingin mempermainkanku dalam hidup ini. Apakah Kau ini mendengarku atau Kau emang tidak ada!!!” ia berteriak di rel kereta api dalam keheningan malam yang tengah menggelamkan dirinya dalam menyalahkan tuhan. Ia berjalan menyusuri rel kereta api sambil menunggu maut yang akan menjemputnya. Dirinya berjalan lemah dalam balutan kesulitan yang menghimpit dirinya. Pikirannya kosong, Ia terus berjalan hingga akhirnya melihat sang penjemput kematian datang menghampirinya. “Inilah waktunya untuk mengakhiri segala penderitaan ini” lalu Ia memejamkan mata dengan pasrah kepada sang penjemput nyawa…………….